Anemia ‘Mengintai’ Wanita

Standar

ane"blood"mia

Haid, melahirkan, dan diet berlebihan membuat wanita lebih rentan terkena anemia atau penyakit kurang darah. Saat ini diperkirakan 400 juta wanita di seluruh dunia mengidap penyakit tersebut.

Anemia atau penyakit kurang darah memang lebih banyak menyerang wanita. Apalagi dalam tahap ringan, anemia sering kali tidak menimbulkan gangguan berarti. Itu membuat penyakit ini cenderung diabaikan. Padahal kalau dibiarkan berlarut-larut, anemia bisa menurunkan kualitas hidup hingga berakibat kematian.

Data Dinas Kesehatan Republik Indonesia pada 1992, anemia di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memengaruhi produktivitas penderitanya. Tercatat, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 390 per 100.000 kelahiran hidup. Adapun data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebesar 20% dari 515.000 kematian di seluruh dunia disebabkan anemia.

Anemia terjadi karena asupan zat besi yang kurang dari makanan yang dikonsumsi. Dan sayangnya, belum semua masyarakat Indonesia mengetahui tentang pemenuhan nutrisi yang seimbang, pola makan yang hanya mementingkan selera tanpa memperhatikan nutrisi yang benar. Di Indonesia, anemia defisiensi besi (anemia yang disebabkan kekurangan zat besi) mencapai 20 persen hingga 30 persen populasi (50-70 juta jiwa). Parahnya lagi 40,1 persen anemia dialami wanita hamil dengan batas bawah 11 gram per desiliter.

Perempuan menjadi rentan terhadap anemia karena beberapa gangguan seperti menstruasi yang tidak normal, kehamilan, persalinan, penggunaan alat kontrasepsi, hingga terjadinya penyakit keganasan pada alat kandungan, misalnya kanker leher rahim, kanker endometrium, hingga kanker indung telur.

“Kebutuhan dan cadangan zat besi untuk perempuan itu 1 mg/hari, sedangkan pada perempuan hamil mencapai 6-10 mg/hari. Kebutuhan zat besi untuk ibu hamil meningkat seiring bertambahnya jumlah cairan di dalam tubuh,” kata Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM), dr Junita Indarti SpOG.

Hal lain yang membuat wanita sangat rentan mendapatkan anemia juga karena siklus haid atau menstruasi yang tidak normal. Siklus menstruasi yang normal itu berkisar antara 22-35 hari (dihitung dari hari pertama haid hingga bulan berikutnya). “Lama menstruasi yang normal itu antara 3-7 hari. Diperkirakan pembalut yang dihabiskan dalam jangka waktu itu antara 3-5 pembalut per hari atau sekitar 80 ml darah selama haid,” sebut Juanita.

Junta menyebutkan, siklus menstruasi yang tidak normal pemicu terjadinya anemia seperti hipermenorhea (haid lebih lama dan lebih banyak dari jumlah normal) atau lebih dari delapan hari. Polimenorhea atau siklus haid lebih pendek (kurang dari 21 hari) dan metrorhagia, yaitu perdarahan di luar waktu haid yang bisa disebabkan kelainan organik atau kelainan fungsional. Angka kematian ibu itu masih sangat besar. Dalam 1 jam, 2 ibu meninggal akibat pendarahan, kejang, infeksi, abortus atau keguguran, dan persalinan yang macet.

Junta menyebutkan anemia memberi pengaruh yang buruk terhadap wanita, apalagi jika terjadi pada wanita yang tengah hamil. Pengaruhnya bahkan bisa menyebabkan abortus atau keguguran, kelahiran prematur, persalinan yang lama karena rahim tidak berkontraksi, perdarahan pasca-melahirkan, shock karena banyaknya darah yang keluar, infeksi pada saat persalinan atau setelahnya dan yang paling parah adalah bisa menyebabkan gagal jantung. “Gagal jantung baru akan terjadi pada seorang wanita jika Hb-nya berada pada ukuran kurang dari 4gr/dl,” kata Junita.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Hematologi Onkologi Medik RSCM dr Cosphiadi Irawan SP PD K HUM. Dia mengatakan penderita terbesar dan terbanyak adalah wanita. “Anemia yakni seseorang yang memiliki Hb atau hemoglobin kurang dari normal. Hb itu sendiri adalah bagian dari elemen tubuh manusia yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh, dan anemia tidak sama dengan tekanan darah rendah,” kata dr Cosphiadi.

Dia menyebutkan, kadar hemoglobin darah antara pria dan wanita tidak sama. Pria normal memiliki kadar 13 persen per gram, sedangkan wanita normal dan lansia memiliki 12 persen per gram. Untuk wanita hamil akan terjadi perubahan hemoglobin darah dalam trisemester kehamilan. “Tiga bulan pertama wanita memiliki Hb 11,5 persen per gram, tiga bulan kedua menjadi 11 persen per gram, dan tiga bulan ketiga menjadi 10 persen gram. Itu karena tubuh wanita memproduksi banyak cairan untuk ketuban,” sebutnya.

Saat hamil, dia menuturkan, jika terkena anemia, maka kondisinya akan lebih berat. Ini karena perdarahan antepartum atau pendarahan dalam kehamilan disebabkan lokasi plasenta abnormal. “Anemia pada wanita juga bisa disebabkan wasir. Untuk mencegah anemia, cara yang paling penting adalah dengan mengonsumsi makanan yang cocok dengan kebutuhan protein dan zat besi tubuh,” ujarnya.

Repost by : berbagai sumber

Tinggalin balasan ente ya gan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s