Cara “Pointing ato Pemetaan” Yang Benar

Standar

422639_etrexvistacx

1. GPS

343828_5006_transit_l2. KOMPAS

binokular3. BINOKULAR

pigtail4. PIGTAIL

senao_3220 [ WIRELLES]5. WIRELLESS

24dbi, ANTENA GRID6. ANTENA GRID sekaligus pipa besi profil[model L, model U, model T] dan klem pipa.

acer_aspire_4710_notebook

walkie_talkie__ht

7. Notebook, Radio komunikasi (HT).

cable_tester

crimping_tool

rj45_lan_connector

cable power roll

utp cable

8. Cable tester, Crimping Tool, konektor RJ45, Kabel power roll, UTP cable.

harness

c812_thumb

webbing_slings

9. Peralatan panjat, harness, carabiner, webbing.

RUBBER 3M

cable-tie

10. Kunci pas, kunci ring, kunci inggris, tang (potong, buaya, jepit),
obeng set, tie rap, isolator gel (silicon), rubber 3M, senter (flash
light).

orinoco-2

install-wlan

11. Software AP Manager, Orinoco Client, driver dan AP Utility Planet


**Survey Lokasi.

Caranya :

1. Tentukan koordinat letak kedudukan station, jarak udara terhadap BTS dengan GPS dan kompas pada peta.

**[ BTS adalah kependekan dari Base Transceiver Station. Terminologi ini termasuk baru dan mulai populer di era booming seluler saat ini. BTS berfungsi menjembatani perangkat komunikasi pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain. Satu cakupan pancaran BTS dapat disebut Cell. Komunikasi seluler adalah komunikasi modern yang mendukung mobilitas yang tinggi. Dari beberapa BTS kemudian dikontrol oleh satu Base Station Controller (BSC) yang terhubungkan dengan koneksi microwave ataupun serat optik.

353px-gsm-BTS-walbrzych *Gambar BTS.

2. Perhatikan dan tandai titik potensial penghalang (obstacle) sepanjang path

3. Hitung SOM, path dan acessories loss, EIRP[tentang apa yang dimaksud dengan *EIRP dan *Freznel Zone bisa kamu baca di Karakteristik Jaringan Wireless,Wifi Dan Nirkabel…:-bd], Freznel Zone, ketinggian antena.

**[ Salah satu teknik lain untuk menganalisa data pada dimensi tinggi adalah dengan SOM (Self Organizing Feature Map). SOM dikembangkan Prof.Teuvo Kohonen (Finland) untuk memproyeksikan data ke 1 atau 2 dimensi, dengan mempertahankan topologi data tsb, (topological mapping). Data yang di ruang vektor berdimensi tinggi berdekatan, saat dipetakan ke ruang vektor 2D, akan terletak pada lokasi yang berdekatan pula, vice versa…]

4. Perhatikan posisi terhadap station lain, kemungkinan potensi hidden
station, over shoot dan test noise serta interferensi. Perhitungkan
signal multipath dan adanya cross section signal dari station lain

5. Tentukan posisi ideal tower, elevasi, panjang kabel dan alternatif seandainya ada kesulitan dalam instalasi

6. Rencanakan sejumlah alternatif metode instalasi, pemindahan posisi dan alat.


~ Pemasangan Konektor :

1. Kuliti kabel coaxial dengan penampang melintang, spesifikasi
kabel minimum adalah RG 8 9913 atau CNT400 dengan perhitungan losses 10
db setiap 30 m.

2. Jangan sampai terjadi goresan berlebihan karena perambatan gelombang mikro adalah pada permukaan kabel.

3. Pasang konektor dengan cermat dan memperhatikan penuh masalah kerapian.

4. Solder pin ujung konektor dengan cermat dan rapi, pastikan tidak terjadi short.

5. Perhatikan urutan pemasangan pin dan kuncian sehingga dudukan kabel
dan konektor tidak mudah bergeser. Test kemungkinan short dengan
multimeter.

6. Tutup permukaan konektor dengan aluminium foil untuk mencegah
kebocoran dan interferensi, posisi harus menempel pada permukaan
konektor.

7. Lapisi konektor dengan aluminium foil dan lapisi seluruh permukaan
sambungan konektor dengan isolator TBA (biasa untuk pemasangan pipa
saluran air atau kabel listrik instalasi rumah), atau isolasi 3 M.
Lapisi juga dengan silicon gel.

8. Tutup seluruh permukaan dengan isolator karet bakar untuk mencegah air.

9. Untuk perawatan, ganti semua lapisan pelindung setiap 6 bulan sekali.

10. Konektor terbaik adalah model hexa (crimp) tanpa solderan dan drat
(screw) sehingga sedikit melukai permukaan kabel, yang dipasang dengan
crimping tools, disertai karet bakar sebagai pelindung pengganti
isolator karet.


*Pembuatan POE :
Ini hanya optional, kalo sekarang banyak Access Point yang sudah menggunakan POE. Jadi sudah satu paket dengan Accas Point nya.
1. Power over ethernet diperlukan untuk melakukan injeksi catu daya
ke perangkat Wireless In A Box yang dipasang di atas tower, POE
bermanfaat mengurangi kerugian power (losses) akibat penggunaan kabel
dan konektor

2. POE menggunakan 2 pair kabel UTP yang tidak terpakai, 1 pair untuk
injeksi + (positif) power dan 1 pair untuk injeksi – (negatif) power,
digunakan kabel pair (sepasang) untuk menghindari penurunan daya karena
kabel loss dan gunakan adaptor dengan daya (Ampere) lebih besar dari
standar bawaan perangkat agar mampu mencapai redaman sepanjang kabel UTP

3. Perhatikan bahwa permasalahan paling krusial dalam pembuatan POE
adalah bagaimana cara mencegah terjadinya short, karena kabel dan
konektor power penampangnya kecil dan mudah bergeser atau tertarik,
tetesi dengan lilin atau isolator (silicon) gel agar setiap titik
sambungan terlindung dari short

4. Sebelum digunakan uji terlebih dahulu semua sambungan dengan multimeter.



**Instalasi Antena.

tower triangle untuk jaringan lan dan wlanDi sini dibahas pemasangan dengan menggunakan tower triangle.

1. Panjat tower tersebut sampai di ketinggian yang di perlukan
(minimal 1st freznel zone terlewati terhadap obstacle terdekat).

2. Sebelum memanjat cek kelengkapan alat yang diperlukan untuk instalasi
di atas tower, jangan sampai ada yang tertinggal, karena akan
merepotkan diri sendiri maupun orang lain.

3. Peralatan yang lain seperti grid, radio AP, pipa besi (stang) bisa dibawa langsung atau di tarik menggunakan tali.

4. Pasang antena di pipa besi, arahkan dengan menggunakan kompas dan GPS sesuai tempat kedudukan BTS di peta

5. Pasang kabel ke Radio AP yang sudah dimasukkan dalam box, rapikan
sementara, jangan sampai berat kabel menjadi beban sambungan konektor
dan mengganggu gerak pointing serta kedudukan antena

6. Perhatikan dalam memasang kabel di tower / pipa, jangan ada posisi
menekuk yang potensial menjadi akumulasi air hujan, bentuk sedemikian
rupa sehingga air hujan bebas jatuh ke bawah.


**Instalasi Perangkat Radio.

1. Instal PC Card dan Orinoco dengan benar sampai dikenali oleh OS
tanpa konflik dan pastikan semua driver serta utility dapat bekerja
sempurna.

2. Instalasi pada OS W2K memerlukan driver terbaru dari web site dan
ada di CD utility kopian, tidak diperlukan driver PCMCIA meskipun PNP
W2K melakukannya justru deteksi ini menimbulkan konflik, hapus dirver
ini dari Device Manager.

3. Instalasi pada NT memerlukan kecermatan alokasi alamat IO, IRQ dan
DMA, pada BIOS lebih baik matikan semua device (COM, LPT dll.) dan
peripheral (sound card, mpeg dll.) yang tidak diperlukan.

4. Semua prosedur ini bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 30
menit tidak termasuk instalasi OS, lebih dari waktu ini segera jalankan
prosedur selanjutnya.

5. Apabila terus menerus terjadi kesulitan instalasi, untuk sementara
demi efisiensi lakukan instalasi dibawah OS Win98 / ME yang lebih mudah
dan sedikit masalah.

6. Pada instalasi perangkat radio jenis Wireless In A Box (Mtech,
Planet, Micronet dlll.), terlebih dahulu lakukan update firmware dan
utility.

7. Kemudian uji coba semua fungsi yang ada (AP, Inter Building, SAI
Client, SAA2, SAA Ad Hoc dll.) termasuk bridging dan IP Addressing
dengan menggunakan antena helical, pastikan semua fungsi berjalan baik
dan stabil.

8. Pastikan bahwa perangkat Power Over Ethernet (POE) berjalan sempurna.
Pengujian Noise.

1. Bila semua telah berjalan normal, install semua utility yang
diperlukan dan mulai lakukan pengujian noise / interferensi, pergunakan
setting default.

2. Tanpa antena perhatikan apakah ada signal strenght yang tertangkap
dari station lain disekitarnya, bila ada dan mencapai good (sekitar 40
% – 60 %) atau bahkan lebih, maka dipastikan station tersebut
beroperasi melebihi EIRP dan potensial menimbulkan gangguan bagi
station yang sedang kita bangun, pertimbangkan untuk berunding dengan
operator BTS / station eksisting tersebut.

3. Perhatikan berapa tingkat noise, bila mencapai lebih dari tingkat
sensitifitas radio (biasanya adalah sekitar – 83 dbm, baca spesifikasi
radio), misalnya – 100 dbm maka di titik station tersebut
interferensinya cukup tinggi, tinggal apakah signal strenght yang
diterima bisa melebihi noise.

4. Perhitungan standar signal strenght adalah 0 % – 40 % poor, 40 % –
60 % good, 60 % – 100 % excellent, apabila signal strenght yang
diterima adalah 60 % akan tetapi noisenya mencapai 20 % maka kondisinya
adalah poor connection (60 % – 20 % – 40 % poor), maka sedapat mungkin
signal strenght harus mencapai 80 %.

5. Koneksi poor biasanya akan menghasilkan PER (packet error rate –
bisa dilihat dari persentasi jumlah RTO dalam continous ping) diatas 3
% – 7 % (dilihat dari utility Planet maupun Wave Rider), good berkisar
antara 1 % – 3 % dan excellent dibawah 1 %, PER antara BTS dan station
client harus seimbang…….

6. Perhitungan yang sama bisa dipergunakan untuk memperhatikan station
lawan atau BTS kita, pada prinsipnya signal strenght, tingkat noise,
PER harus imbang untuk mendapatkan stabilitas koneksi yang diharapkan.

7. Pertimbangkan alternatif skenario lain bila sejumlah permasalahan di
atas tidak bisa diatasi, misalkan dengan memindahkan station ke tempat
lain, memutar arah pointing ke BTS terdekat lainnya atau dengan metode
3 titik (repeater) dll.


**Perakitan Antena.

1. Antena microwave jenis grid parabolic dan loop serta yagi perlu
dirakit karena terdiri dari sejumlah komponen, berbeda dengan jenis
patch panel, panel sector maupun omni directional.

2. Rakit antena sesuai petunjuk (manual) dan gambar konstruksi yang disertakan

3. Kencangkan semua mur dan baut termasuk konektor dan terutama reflektor.

4. Perhatikan bahwa antena microwave sangat peka terhadap perubahan
fokus, maka pada saat perakitan antena perhatikan sebaik-baiknya fokus
reflektor terhadap horn (driven antena), sedikit perubahan fokus akan
berakibat luas seperti misalnya perubahan gain (db) antena.

5. Beberapa tipe antena grid parabolic memiliki batang extender yang
bisa merubah letak fokus reflektor terhadap horn sehingga bisa diset
gain yang diperlukan.


**Pointing Antena.
1. Secara umum antena dipasang dengan polarisasi horizontal.

2. Arahkan antena sesuai arah yang ditunjukkan kompas dan GPS, arah ini kita anggap titik tengah arah (center beam).

3. Geser antena dengan arah yang tetap ke kanan maupun ke kiri center
beam, satu per satu pada setiap tahap dengan perhitungan tidak melebihi
½ spesifikasi beam width antena untuk setiap sisi (kiri atau kanan),
misalkan antena 24 db, biasanya memiliki beam width 12 derajat maka,
maksimum pergeseran ke arah kiri maupun kanan center beam adalah 6
derajat.

4. Beri tanda pada setiap perubahan arah dan tentukan skornya,
penentuan arah terbaik dilakukan dengan cara mencari nilai average yang
terbaik, parameter utama yang harus diperhatikan adalah signal
strenght, noise dan stabilitas.

5. Karena kebanyakan perangkat radio Wireless In A Box tidak memiliki
utility grafis untuk merepresentasikan signal strenght, noise dsb
(kecuali statistik dan PER) maka agar lebih praktis, untuk pointing
gunakan perangkat radio standar 802.11b yang memiliki utility grafis
seperti Orinoco atau gunakan Wave Rider.

6. Selanjutnya bila diperlukan lakukan penyesuaian elevasi antena
dengan klino meter sesuai sudut antena pada station lawan, hitung
berdasarkan perhitungan kelengkungan bumi dan bandingkan dengan kontur
pada peta topografi.

7. Ketika arah dan elevasi terbaik yang diperkirakan telah tercapai
maka apabila diperlukan dapat dilakukan pembalikan polarisasi antena
dari horizontal ke vertical untuk mempersempit beam width dan
meningkatkan fokus transmisi, syaratnya kedua titik mempergunakan
antena yang sama (grid parabolic) dan di kedua titik polarisasi antena
harus sama (artinya di sisi lawan polarisasi antena juga harus dibalik
menjadi vertical).


**Pengujian Koneksi Radio.
1. Lakukan pengujian signal, mirip dengan pengujian noise, hanya
saja pada saat ini antena dan kabel (termasuk POE) sudah dihubungkan ke
perangkat radio.

2. Sesuaikan channel dan nama SSID (Network Name) dengan identitas BTS
/ AP tujuan, demikian juga enkripsinya, apabila dipergunakan otentikasi
MAC Address maka di AP harus didefinisikan terlebih dahulu MAC Address
station tersebut.

3. Bila menggunakan otentikasi Radius, pastikan setting telah sesuai dan cobalah terlebih dahulu mekanismenya sebelum dipasang.

4. Perhatikan bahwa kebanyakan perangkat radio adalah berfungsi sebagai
bridge dan bekerja berdasarkan pengenalan MAC Address, sehingga IP
Address yang didefinisikan berfungsi sebagai interface utility
berdasarkan protokol SNMP saja, sehingga tidak perlu dimasukkan ke
dalam tabel routing.

5. Tabel routing didefinisikan pada (PC) router dimana perangkat radio
terpasang, untuk Wireless In A Box yang perangkatnya terpisah dari (PC)
router, maka pada device yang menghadap ke perangkat radio masukkan
pula 1 IP Address yang satu subnet dengan IP Address yang telah
didefinisikan pada perangkat radio, agar utility yang dipasang di
router dapat mengenali radio.

6. Lakukan continuos ping untuk menguji stabilitas koneksi dan mengetahui PER

7. Bila telah stabil dan signal strenght minimum good (setelah
diperhitungkan noise) maka lakukan uji troughput dengan melakukan
koneksi FTP (dengan software FTP client) ke FTP server terdekat
(idealnya di titik server BTS tujuan), pada kondisi ideal average
troughput akan seimbang baik saat download maupun up load, maksimum
troughput pada koneksi radio 1 mbps adalah sekitar 600 kbps dan per TCP
connection dengan MTU maksimum 1500 bisa dicapai 40 kbps.

8. Selanjutnya gunakan software mass download manager yang mendukung
TCP connection secara simultan (concurrent), lakukan koneksi ke FTP
server terdekat dengan harapan maksimum troughput 5 kbps per TCP
connection, maka dapat diaktifkan sekitar 120 session simultan
(concurrent), asumsinya 5 x 120 = 600.

9. Atau dengan cara yang lebih sederhana, digunakan skala yang lebih
kecil, 12 concurrent connection dengan trouhput per session 5 kbps, apa
total troughput bisa mencapai 60 kbps (average) ? bila tercapai maka
stabilitas koneksi sudah dapat dijamin berada pada level maksimum.

10. Pada setiap tingkat pembebanan yang dilakukan bertahap, perhatikan
apakah RRT ping meningkat, angka mendekati sekitar 100 ms masih
dianggap wajar.

Iklan

6 thoughts on “Cara “Pointing ato Pemetaan” Yang Benar

  1. Eko

    gan, kalo jam 8-9 pagi, koneksi antar client putus tapi dari semua client ke AP bisa, dari AP ke client bisa… gimana gan… tolong dong…

    Suka

  2. barido

    master..klo sinyal 5 menit hilang tar lok di matiin truz di nyalain lagi baru dtang lagi,lok gitu trus gmn y……..pdhl udh dio cek smua instalasi bbener,tapi msh ttp gt truzzzzz.tlg dong…

    Suka

Tinggalin balasan ente ya gan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s