Penjaga2 Titik Terluar negara Indonesia

Standar

Secara administratif, Pulau Nipah masuk wilayah Kepulauan Riau. Posisinya berada di titik terluar Republik Indonesia sehingga lebih dekat ke negeri seberang Singapura daripada ke Batam. Banyak suka duka yang dialami personel TNI yang bertugas jaga di garis batas Nusantara itu.

SETEGAK mercu suar. Demikianlah para penyair sering menggambarkan ketegaran dan keteguhan sikap para prajurit. Termasuk prajurit yang bertugas di pos-pos penjagaan pulau terluar negeri ini.

tontaipur-barissamping

Demikian juga, yang terlihat di pos penjagaan Pulau Nipah. Para prajurit harus bertahan dan menjalankan tugas meski kesulitan dan menghadapi lebih banyak tantangan.

Seperti pengakuan Rian, salah seorang prajurit Marinir TNI-AL di Pulau Nipah. Hampir lima bulan bertugas di Nipah, siksaan utama yang dia alami adalah air bersih dan makanan. Untuk mandi dan minum, mereka harus menunggu air hujan. Makan pun kadang ala kadarnya. ”Mi instan menjadi makanan pokok. Tapi, kami tetap semangat dalam mengemban tugas negara,” kata prajurit asal Magelang itu.

Hal serupa juga dirasakan rekannya, Irwan. Meski tidak mengeluh dengan keadaan tersebut, pria asal Medan itu mengatakan bahwa kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. ”Semua kami nikmati demi tugas,” ujar Irwan.

Jarang berkomunikasi dengan keluarga serta jauh dari peradaban merupakan tantangan lain bagi para prajurit. Maklum, biaya komunikasi di pulau itu cukup mahal. Sekali mengirimkan pesan singkat (SMS) kena biaya Rp 3.500. Jika ditelepon, mereka harus menanggung biaya roaming internasional.

Rian dan Irwan merupakan dua di antara 34 prajurit Marinir TNI-AL yang saat ini bertugas di Nipah. Mereka merupakan satuan pengamanan angkatan keenam. Awal bulan ini merupakan bulan kelima masa tugas mereka. Biasanya mereka mendapatkan pergantian petugas setiap enam bulan.

Penyakit yang muncul kemudian adalah rasa jenuh dan bosan. Beruntung mereka memiliki berbagai objek untuk melawan kejenuhan dan rasa bosan yang sering menggelayut di pikiran.

Ipeh dan Idam, misalnya. Kedua binatang jenis anjing gembala Jerman (AGJ) betina itu kadang menjadi hiburan tersendiri bagi para prajurit. Selain sifatnya yang manja, kedua anjing itu cukup cerdas. Kabarnya, mereka bisa langsung mengenali orang asing yang masuk ke area tersebut.

Pernah salah seorang nelayan nyaris digigit Ipeh saat merapat ke Nipah. ”Keduanya masih perawan, Bang,” seloroh Irwan.

Serangan badai dan angin puting beliung juga dianggap sebagai hiburan bagi prajurit. Padahal, bulan lalu fenomena alam tersebut sempat memorak-porandakan bangunan pos pemantau milik mereka. Angin semacam itu datang tiga hingga empat kali sebulan.

Olahraga juga menjadi salah satu aktivitas yang bisa mengusir rasa jenuh itu. Di pos jaga tersedia berbagai perkakas untuk fitnes.

Sisi paling membanggakan adalah status mereka sebagai prajurit penjaga pulau terluar. Dengan status itu, berarti mereka merupakan prajurit yang berada di garda terdepan dalam mengamankan negeri ini.

Hal itu juga disampaikan Komandan Pos TNI-AL Pulau Nipah Lettu Agus Tuslian. Bagi Agus, bertugas di pulau terluar merupakan momentum untuk mengenali jati diri sebagai seorang prajurit. ”Tidak hanya semakin cinta tanah air. Saya juga merasa semakin cinta dengan Tuhan,” kata letnan satu kelahiran Bandung itu.

Saat ini Agus membawahkan lima orang prajurit TNI-AL yang bertugas di Nipah. Bulan depan masa tugas Agus dan kelima prajuritnya di Nipah genap 1,5 tahun. Namun, mereka mengaku masih tetap semangat meski tidak tahu sampai kapan akan berjaga di sana.

Semangat Agus, Irwan, Rian, dan prajurit lainnya seolah sebagai komitmen bahwa tidak akan ada lagi kisah tragis seperti yang dialami Pulau Sipadan dan Ligitan yang harus rela dimiliki negeri jiran Malaysia. NKRI adalah harga mati. (*/jpnn/ruk)

One thought on “Penjaga2 Titik Terluar negara Indonesia

  1. sari

    “SETEGAK mercu suar. Demikianlah para penyair sering menggambarkan ketegaran dan keteguhan sikap para prajurit. Termasuk prajurit yang bertugas di pos-pos penjagaan pulau terluar negeri ini.”
    Aq jdi tersenyum membaca sepenggal kalimat di atas. Bukannya kalimat di atas lebih tepat di tujukan kepada para PMS (Penjaga Menara Suar). Ambi contoh P. Batik di perbatasan NTT dan oekusi-RDTL. Setahu aq yang masuk dan menetap pertama kali sebagai klaim atas pulau tersebut kepunyaan RI adalah para Penja Menara Suar Itu. Di pulau Letty & Metimiarang (Maluku tengara), P. Dana Sabu, P. Mangudu udah lama juga juga ditempati, dijaga dan dioperasikannya Sarana Bantu Navigasi Pelayaran oleh personil PMS dari Navigasi Kupang. Nah setelah sipadan ligitan lepas baru dah rame2 pulau itu dibangun monumen, dijaga oleh personil TNI. Telat kali yaa…tpi ya gitulah, nasip para PMS ini kurang mendapat perhatian.

    Suka

Tinggalin balasan ente ya gan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s