22 Desember, hari kebangkitan perempuan, bukan hari ibu !

Standar

image0

Sebut saja, Pariyem sang tokoh dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Nyai Ontosoroh tokoh novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, Marieneti Dianwidhi Sang tokoh novel Burung-burung Rantau karya YB Mangunwijaya, dan Cok, sang tokoh dalam novel Saman karya Ayu Utami. Empat tokoh perempuan Indonesia yang muncul dalam karya sastra, dengan latar belakang, zaman, dan semangat perempuan yang berbeda, kesemuanya menunjukkan wanita super –sanggup memberi warna pada kehidupan. Lalu bagaimana dengan perempuan Indonesia sesungguhnya (non-fiksi)?

Sebut saja Dewi Sartika, perempuan kelahiran Bandung, 4 Desember 1884 – wafat di Tasikmalaya, 11 September 1947 dalam umur 62 tahun. Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan –jauh sebelum RA Kartini, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Atau Ibu Inggit, istri setia mendiang Soekarno yang saat ini tengah hangat diusulkan sebagai pahlawan nasional. Lantas, bagaimana dengan kiprah perempuan Indonesia lainnya? Lanjutkan membaca